Masa Depan Keberagaman Di Indonesia

 

Indonesia merupakan negara paling plural di dunia dengan penduduk warna-warni yang berjumlah lebih dari 260 juta jiwa di atas ribuan pulau, ratusan bahasa dan suku dengan adat dan budaya sendiri-sendiri, dengan hampir semua agama di dunia. Meskipun penuh dengan keberagaman, Indonesia tetap satu. Sesuai dengan semboyan bangsa kita “Bhineka Tunggal Ika”, yang artinya “meskipun berbeda-beda, tetapi tetap satu jua”.Pada tahun 1945, pendiri bangsa ini memiliki kebesaran hati untuk menerima bahwa negara kita ini adalah milik semua bangsa Indonesia tanpa membedakan antara mayoritas dan minoritas. Itulah hakekat Pancasila yang menjadi dasar dan ideologi negara kita.

 

Beberapa tahun terakhir pluralisme banyak dibicarakan tentu tidak tanpa alasan. Alasannya sederhana : pluralisme bangsa kita sedang dalam serangan. Ada kelompok-kelompok yang mau memaksakan pandangan mereka kepada seluruh masyarakat. Banyak pertanyaan muncul di benak kita mengenai ke-bhineka-tunggal-ika-an yang didengungkan oleh negara kita. Deretan kasus pelanggaran HAM terkait intoleransi, terutama dalam kehidupan beragama di Indonesia menjadi salah satu bukti belum ditegakkannya rasa toleransi secara keseluruhan. Kita ambil saja contoh aksi damai 411 hinga aksi 212 pada penghujung tahun 2016 dan aksi 212 jilid II di awal tahun 2017 yang dilaksanakan atas nama pembelaan agama. Sulit untuk disangkal bahwa persatuan, bahkan kutuhan Republik Indonesia berada dalam bahaya.Brutalitas tragis konflik-konflik komunal, misalnya di Maluku, Sulawesi Tengah dam Kalimantan Barat beberapa tahun yang lalu- yang mengikuti garis agama, suku atau penduduk asli versus pendatang memberi kesan bahwa keutuhan masyarakat Indonesia sedang diuji.

 

 

Munculnya konflik yang bernuansa suku, agama, ras, dan antar golongan (SARA) pada beberapa daerah di Indonesia, dari banyak riset yang dilakukan salah satu penyebabnya adalah, akibat dari lemahnya pemahaman dan pemaknaan tentang konsep kearifan budaya. Terdapat perbedaan ras pada masyarakat menjadi penanda awal yang secara budaya sudah dilabelkan hambatan, yakni prasangka rasial. Prasangka rasial ini sangat sensitif karena melibatkan sikap seseorang ataupun kelompok ras tertentu terhadap ras lain. Prasangka ini juga bisa muncul oleh situasi sosial, sejarah masa lalu, stereotipe dan etnosentrisme yang menjadi bagian dalam kebudayaan kelompok tertentu. Dengan kata lain dinamika dan perkembangan masyarakat Indonesia ke depan sangat dipengaruhi oleh hubungan-hubungan antar etnis. Alasan lainnya adalah banyaknya aturan pemerintah yang hanya memihak kepada kaum mayoritas. Contohnya adalah mengenai pelarangan membuka warung makan di siang hari saat bulan puasa. Kita dapat melihat bahwa kebijakan pemerintah dipengaruhi oleh minat mayoritas. Masyarakat mayoritas sudah terbiasa dengan segala rutinitasnya yang lancer tanpa kendala, sedangkan kaum minoritas mengalami diskriminasi dari berbagai aspek. Bila hal-hal seperti ini dibiarkan maka dimanakah masa depan pluralisme bangsa kita?

Pluralisme dalam arti sederhana merupakan suatu keterbukaan. Pluralisme adalah suatu penerimaan bahwa tiap orang berbeda-beda dan bahwa perbedaan itu tidak memisahkan manusia satu sama lain, melainkan bersatu dalam nilai-nilai yang universal. Nilai-nilai pluralism misalnya hormat terhadap keutuhan tiap manusia, penolakan terhadap pemakaian kekerasan atas nama SARA, kebebasan beragama, kebebasan berpendapat dan berekspresi serta rasa solidaritas dan keadilan.

Dalam Pancasila, bangsa Indonesia secara resmi sepakat bahwa warga negara Kesatuan Republik Indonesia memiliki hak dan kewajiban yang sama tanpa adanya diskriminasi. Nilai-nilai yang tersirat dalam Pancasila seharusnya direaktualisasi oleh bangsa Indonesia sebagai bangsa yang majemuk. Reaktualisasi yang dimaksudkan di sini adalah bahwa nilai Pancasila perlu diaktualisasikan kembali. Nilai-nilai Pancasila yang perlu diaktualisasikan tak lain adalah kesediaan untuk saling menerima dalam kekhasan masing-masing, menghormati dan mendukung kemajemukan bangsa dan untuk senantiasa menata kehidupan bangsa ini secara inklusif.

Pluralisme adalah inti dasar kesediaan rakyat Nusantara untuk hidup bersama. Pluralisme itu harus dipelajari. Semua harus belajar untuk menerima bahwa masing-masing suku, etnik, pulau/daerah, dan umat beragama masing-masing memiliki kekhasan. Pluralitas perlu dihormati dan disyukuri sebagai sebuah anugerah dari sang Pencipta. Kesediaan untuk menerima pluralitas, itulah yang dimaksud dengan pluralism, sebagai bukti komitmen pada kebangsaan Indonesia.

Salah satu nilai penting pluralisme adalah toleransi. Toleransi adalah kesediaan untuk mengakui bahkan menghargai keberadaan orang/kelompok lain dalam keberlainannya! Yang perlu diajarkan kepada bangsa kita, terutama para generasi muda adalah kesediaan dan kemampuan psikis untuk hidup berdampingan secara damai dengan saudara-saudari yang berbeda suku, adat, bahasa ataupun agamanya. Pluralism memerlukan kemampuan untuk menerima perbedaan, tanpa harus marah-marah dan menyamaratakan semuanya. Maka sangat diperlukan pendidikan untuk berkomunikasi atau bergaul dengan saudara sebangsa yang berbeda. Aktualisasi nilai Pancasila berarti melawan tendensi-tendensi yang semakin kuat untuk menyekat orang hanya karena adanya perbedaan.

Hanya orang pluralis yang bisa toleran. Toleransi dalam arti yang mendalam adalah penerimaan gembira terhadap kenyataan bahwa di sekitar kita hidup orang-orang dengan latar belakang yang berbeda dengan diri kita. Perlu disadari bahwa bangsa semajemuk Indonesia hanya bisa bersatu apabila semua komponen bangsa memang mau bersatu. Tak mungkin mempertahankan masa depan keberagaman negara kita dengan paksaan. Indonesia adalah milik kita semua, kita dengan segala kebhinnekaan.

Maka bagi Indonesia yang begitu majemuk, pluralisme merupakan syarat eksistensinya, sehingga reaktualisasi nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan berbangsa dan bernegara menjadi suatu hal yang urgent dan sangat mendesak. Pluralisme berarti sikap sedia untuk berlapang hati menerima warga negara dan sesama warga masyarakat dalam perbedaan. Termasuk kesediaan untuk tidak mau memaksakan keyakinannya sendiri kepada mereka yang tidak menghendakinya. Sebagai warga Nusantara kita perlu satu hati dan bergandeng tangan melintas segala perbedaan dalam berhadapan dengan pelbagai kesulitan terutama yang mengancam persatuan dan kesatuan bangsa, serta terus mengembangkan sinergi untuk bersama-sama menanggulangi masalah-masalah bangsa dan negara kita di masa mendatang. Mari kita belajar mencintai perbedaan yang ada sebagai sebuah anugerah dan kekuatan. Sepintas cinta itu memang kelihatan bodoh, tetapi ketika kita bersentuhan dengannya dan merasakannya, kita sadar dan tahu bahwa cinta itulah kekuatan yang sebenarnya!

Add comment


Security code
Refresh